Diferensiasi Kursus Penyeduhan Kopi Manual

Entrepreneurship
KORAN BISNIS INDONESIA
Selasa, 20 Oktober 2015

Animo masyarakat yang tinggi untuk terlibat dalam perkopian menghadirkan inspirasi bagi SYAIFUL BARI yang mendirikan FULCAFF BARISTA COURSE, bagian dari jaringan Fulcaff Group, sejak 14 Oktober 2010.

Usaha yang berlokasi di Jalan Raya Kampung Serab / KSU, Kota Depok, Jawa Barat itu memiliki beberapa fokus bisnis, yakni kafe, kopi luwak, kopi Indonesia, signature coffee, kemasan kopi, coffee roasting, dan waralaba Fulcaff.

Syaiful merancang materi kursus yang berbeda dengan penyedia jasa kursus lainnya.

Pria berusia 31 tahun ini melihat tidak semua masyarakat yang ingin ikut ambil bagian dalam perkopian punya modal besar dan mampu membeli mesin kopi yang harganya puluhan bahkan ratusan juta.

“Ada ceruk pasar di situ yang belum digarap oleh pelaku usaha yang lain. Kebanyakan tempat Kursus Barista mengajarkan penyeduhan pakai mesin, kami justru sebaliknya, yakni fokus pada manual,” katanya.

Ada empat kelas kursus yang disediakan Fulcaff Barista Course, yakni Manual Brewing, Coffee Roasting, Manual Espresso, dan latte art.

Pada kursus manual brewing, ada 12 metode penyeduhan yang akan diajarkan kepada peserta kursus, antara lain penyeduhan kopi ala Indonesia (tubruk), ala Italia, ala Vietnam, Turki dan banyak lagi.

Semua alat Manual Brewing dia sediakan dan dapat digunakan siswa. Mereka juga dapat memilih jenis kopi yang akan diseduh dari 22 varian kopi fresh yang disediakan Fulcaff Cafe.

Kemudian, untuk Kelas Manual Espresso yang baru dibuka beberapa bulan terakhir ini, peserta diajarkan untuk dapat membuat espresso yang enak bermodalkan alat seduh manual. Ada materi penyeduhan Rok Presso, Handpresso, Bellman, Latte, Cappuccino, Affogato dan turunan dari espresso lainnya.

Sebagai bentuk promosi dan meningkatkan animo peserta, dia memberi program diskon bagi peserta kelas kursus manual brewing yang ingin melanjutkan ke kursus manual espresso.

Adapun, khusus latte art, materi yang diajarkan masih menggunakan mesin. Namun, Syaiful mengaku dia sedang menyiapkan bahan pengajaran untuk kelas manual latte art yang diharapkan bisa diluncurkan mulai 2016.

Tarif yang dipatok untuk kursus ini mulai Rp 2 juta per peserta dengan jumlah siswa tiga hingga lima orang per kelas dan durasi belajar tiga hari masing-masing selama tiga jam. Selain itu, disediakan juga kelas privat dengan biaya mulai Rp 3 juta per orang.

“Kelas privat ini disediakan kalau peserta ingin kelas yang lebih fleksibel, lebih fokus, dan lebih personal. Ini pilihan saja bagi orang yang ingin fokus. Kalau mereka punya waktu banyak, bisa juga magang di kafe setiap Sabtu atau Minggu selama sebulan,” ujarnya.

Diferensiasi, ditambah tawaran kesempatan magang, membuat peminat Fulcaff Barista Course tidak pernah sepi. Peminatnya berasal dari Jabodetabek dan luar kota seperti Palembang, Purbalingga dan daerah lainnya.

Kebanyakan adalah laki-laki usia muda serta masyarakat yang tengah mempersiapkan masa pensiun. Mayoritas peserta kursusnya beralasan ikut kelas karena ingin menggeluti usaha di bidang kopi.

Tidak ada syarat khusus untuk mengikuti kursus tersebut. Kursus ini juga terbuka bagi orang yang masih belum memiliki pengetahuan tentang kopi sama sekali.

Hampir setiap akhir pekan ada kelas yang diampu oleh Syaiful langsung ataupun oleh tiga barista trainer yang membantunya. Di luar itu, ada juga kelas-kelas privat yang digelar pada hari kerja.

Dalam sebulan, peminat Kursus Manual Brewing bisa mencapai 15 orang, sementara Kelas Manual Espresso juga hampir sama. Adapun, peminat Kelas Manual Roasting saat ini masih terbatas sebab kursus ini biasanya diambil oleh orang yang memiliki mesin coffee roaster.

Kisaran omzet yang bisa didapatnya saat ini masih di bawah Rp100 juta yang diprediksinya masih akan terus bertumbuh di waktu yang akan datang.

Menurutnya, penyeduhan manual ini masih akan terus berkembang hingga ke daerah-daerah. Dari salah satu peserta kursusnya yang berasal dari Palembang, dia mendengar di daerah tersebut hanya ada satu kafe yang menyediakan manual brewing. Saat ini, kafe tersebut selalu dipadati pengunjung.

“Masyarakat Indonesia suka hal yang baru, jadi prospek manual brewing masih bagus. Dari segi bisnis, jasa kursus dan suplai kopi juga lebih menjanjikan dibandingkan dengan kafe sehingga ke depan saya sudah berencana membangun akademi barista,” tuturnya.

Kurikulum di akademi juga dirancang lebih padat daripada kursus dengan masa belajar sekitar satu hingga tiga bulan. Syaiful berharap akademi tersebut dapat terealisasi pada tahun depan. Dia sedang mencari lahan dengan pilihan antara di Jakarta Selatan atau di bilangan Depok. (Bisnis Indonesia, Ropesta Sitorus).